Melukis Pelangi

Mei 02, 2011 0 Comments A+ a-

Hari ini tak kan pernah terjadi tanpa hari kemarin. Semua kejadian di masa lalu, terbingkai rapi di suatu tempat yang disebut kenangan.

Aku memandang langit luas tak berawan, dari pekarangan rumah. Mencoba mencari sesuatu yang hilang dalam diriku, yang tak kunjung kutemukan.

Kuperhatikan beberapa anak berseragam putih abu-abu yang melintas di depan rumah. Mereka terlihat ceria dengan sejuta cerita yang terlontar dari mulut mereka. Aku tersenyum tipis. Seandainya aku bisa seperti mereka. Setidaknya kami seumuran, tapi kami berbeda. Mereka memiliki masa lalu, sedangkan aku tidak.

Ya… Aku Amnesia. Amnesia yang telah merenggut semua ingatan yang kumiliki, tak tersisa. Kenangan yang kuingat, dimulai ketika aku terbangun di sebuah kamar serba putih, dengan sebuah infus dan selang pernafasan. Selebihnya, tidak.

Namaku Syifa. Setidaknya nama itu yang diucapkan seorang wanita padaku, yang saat ini kupanggil ‘Bunda’. Dengan mata bengkak dan berlinangan airmata, wanita itu tak henti-hentinya memelukku sambil terus mengucapkan syukur. Aku tidak mengerti apa pun.

“Hei, kamu kenapa?” sapa seseorang dengan lembut.

Aku membuyarkan lamunanku, saat kusadari butiran air hujan telah turun perlahan. Aku menatap sesosok pemuda yang berdiri disampingku, dengan seragam yang sama, seperti anak-anak yang melintas tadi.

“Kamu siapa?” tanyaku ingin tahu. Mungkin dulu aku mengenalnya, tapi tidak sekarang.

Laki-laki yang terlihat lebih tua dariku itu, terdiam sejenak, dengan raut wajah yang sulit kuartikan. Tak lama, seuntai senyum terlukis di wajahnya.

“Aku Raka. Kamu bisa anggap aku temanmu.” Jawabnya, sambil menarik tanganku menuju teras rumah, karena hujan semakin deras.

Aku mengikutinya yang duduk di lantai teras, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia mulai menceritakan banyak hal, juga segala hal yang ia ketahui tentang aku. Raka bilang, dulu kami berteman sangat dekat. Aku sungguh marasa bersalah tidak bisa mengingat apapun tentang dia. Walau ini semua bukan keinginanku.

“Hidup tanpa kenangan, sama halnya berjalan di kegelapan. Aku merasa seorang diri. Setiap kali tertidur, setiap itu pula aku tak bermimpi. Aku ingin mempunyai sebuah kenangan. Yang bisa kuingat, ketika aku merindukannya. Tapi…aku tidak memiliki semua itu.” Keluhku dengan suara bergetar. Aku merasa sedih. Namun aku tidak menangis.

Raka menatapku dalam, “Apa masalah itu membuatmu mengeluh?”

“Apa mengeluh itu salah?” tanyaku polos.

Pandangan Raka berpaling ke langit mendung, yang terus menurunkan butiran air hujannya.

“Kamu tahu, setelah hujan besar ini, akan ada apa?” ia mengalihkan tatapannya kearahku lagi.

Aku menggeleng pelan.

“...Pelangi.” katanya dengan senyum yang memperlihatkan sepasang lesung pipi yang tipis. “Jika ‘Hujan’ ini diibaratkan sebuah masalah, maka ‘Pelangi’ itu kebahagiaannya. Jadi…yakinilah, bahwa setiap masalah itu selalu ada penyelesaiannya, dan akan berakhir dengan bahagia. Walaupun saat ini ingatanmu belum kembali, bukan berarti kamu tidak bahagia, kan?”


Tiba-tiba Raka menegakan tubuhnya dan mengulurkan tangannya padaku.

“Ayo kita buat kenangan itu!” ajaknya dengan senyum simpul. Aku memandangnya lekat-lekat. “Kamu pasti tak ingat, kapan terakhir melihat pelangi, kan?”

Aku menyambut tangan Raka yang terasa sangat hangat. Ia menarikku keluar teras, dan membiarkan air hujan yang nyaris mereda itu, jatuh disekujur tubuh kami. Karena tak lama setelah itu, terlihat sebuah bayangan warna-warni yang membelah langit senja. Walaupun terlihat samar, tapi inilah pelangi itu. Kebahagian yang mungkin kuharapkan.

Aku tersenyum, Satu kenangan lagi, telah terukir dibenakku.


***


“Kamu siapa?”

Sesaat, seperti ribuan pisau menghujam jantungku, ketika kata-kata itu terlontar dari bibir Syifa.

Lima bulan terbujur kaku di Rumah Sakit, telah mengubah Syifa yang selama ini kukenal. Ia terlihat lebih kurus, dengan rambut hitamnya yang semakin panjang, di usianya yang menginjak enam belas tahun. Matanya sayu, dan kulit kuning langsatnya yang pucat, akibat tak terkena sinar matahari. Ia lebih banyak diam, seperti terus menggali ujung ingatannya yang seakan tak berdasar. Kenangan-kenangan itu sudah lenyap. Dan menimbulkan penderitaan atas suatu rasa kehilangan yang tidak pernah ia ketahui wujudnya.

Ia tak berharap ingatan masa lalunya kembali. Ia hanya ingin sebuah kenangan. Kenangan yang memacunya untuk hidup. Bukan sebuah layar hitam yang terus menyelimuti panggung masa lalunya.

Tiga hari setelah pertemuan kami di hari yang berhujan itu, Syifa meninggal. Ia mengalami pendarahan dalam tengkoraknya, akibat benturan kepala yang dideritanya, karena kecelakaan lima bulan lalu.

Hingga akhir nafasnya, aku memang bukan lagi sosok penting baginya, seperti dulu. Aku hanya ingin membuatnya tersenyum dengan melukis kenangan di ingatan polosnya, dengan warna kebahagiaan. Sebagai seorang kakak tiri.

Kini Syifa telah mempunyai kenangan singkatnya, sekaligus pelangi hatinya. Warna kehidupan yang sesaat itu,tentu telah memudarkan kelabu hatinya. Aku berharap, secarik kenangan itu, akan selalu memjadi mimpi indah di tidur panjangnya.





:)