Sebungkus Kopi 2 In 1 Dengan Satu Sendok Gula

Maret 16, 2012 0 Comments A+ a-

Kupandangi rerintikan air musim penghujan, dari kursi mengemudi. Sesekali tanganku menghapus jejak embun yang berada di atas kaca, ketika kehadirannya telah mengganggu ratapanku keluar mobil. Seakan tak mempedulikan kegelisahanku, gumpalan awan mendung itu pun tak kunjung meredakan pasukan airnya yang telah turun sejak dua jam yang lalu. Langit yang tadinya jingga, kini telah legam menjadi hitam.

Aku memang tidak benar-benar menghitung setiap detik yang berlalu semenjak kuhentikan mobil ini. Tetapi sudah sejak tadi pula mataku senantiasa menyergap jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan kiriku, hampir setiap detiknya. Aku tidak mengerti apa yang kulakukan. Aku hanya menggerakkan bola mata dan tanganku secara bersamaan, guna memastikan kedua jarum itu berfungsi dengan benar. Aku benar-benar bosan! Tapi apa yang bisa kulakukan di dalam sini? Menghentak-hentakan kesepuluh jariku dengan tidak sabar di atas setir? Aku sudah melakukannya sebanyak dua puluh delapan kali. Dan tak ada yang berubah.

Lalu bagaimana dengan musik? Tanyaku pada diri sendiri. Bukankah musik mampu menenangkanmu? Sama seperti apa yang dilakukan Karmel untukmu.